Be A Dad, Be A Mom: Undefined Feeling!

Karena hidup adalah menyatukan puzzle-puzzle, dan bersamamu telah kutemukan salah satu puzzle hidupku (18 Januari 2012).

Ayah_BundaSetahun lalu, dua puzzle telah dipertemukan olehNya yang kemudian bersepakat menjalani hidup bersama. Maka resmilah gelar suami-istri tersandang. Rupanya gelar itu masihlah belum cukup (namanya juga manusia; selalu banyak maunya :D), maka segala cara dan upaya pun dilakukan demi meraih gelar yang lebih tinggi (haha, bagian ini terlalu lebay!).

Tujuh bulan kemudian (lagi-lagi) atas izin Sang Maha Pemberi Rezeki, saya mulai mengalami gejala aneh yang katanya sih ngidam. Awalnya sih biasa saja, hanya tiba-tiba pengen makan belimbing wuluh. Maka berkelanalah suami tercinta mencari belimbing. Sekantung belimbing itu akhirnya membusuk sebab hanya tiga biji yang berkenan melalui kerongkongan. Setelah peristiwa belimbing, tak ada gejala aneh lagi yang muncul kecuali nafsu makan yang sedikit-sedikit mulai berkurang. Tapi, saya memang berbody mini dan sedang banyak pikiran (haha) maka wajarlah kalo selera makan agak sedikit mampet. Then, dua minggu setelah kisah belimbing mulailah gejala aneh lain, pusing mual melanda. Bersama suami ke puskesmas terdekat, mengadukan gejala, eh malah disuruh test air seni dan tadaa… POSITIP. Bahagia, pasti.

Mulailah hari yang penuh “sensasi”. Mual-muntah tak berkesudahan. Aroma bumbu dapur yang tak lagi sedap melalui lubang hidung. Kerongkongan yang menolak segala bentuk makanan. Dan berat badan yang turun drastis. Sedih, iya. Bagaimana nasib calon bayi di dalam rahim kalo calon emaknya ga bisa makan? Empat bulan masa itu cukup membuat suami bingung. Bingung nawarin makanan apa lagi buat saya, sebab tiap ditanya Yang, mau makan apa? Jawabnya terserah. Giliran suami beli makanan, eh sayanya malah tutup hidung sambil ngoceh (hoho, saya sungguh menyebalkan saat itu).

Memasuki bulan ke lima, siklus hidup mulai berjalan normal. Nafsu makan sudah balik ke asal. Aktivitas mulai lancar. Dan yang bikin hepi, calon baby sudah mulai terasa bergerak. Bulan ke enam, hasil kontrol rutin plus USG; perempuan (Alhamdulillah) plus keterangan tambahan plasenta previa total (siap-siap SC kata dokternya). Bahagia, iya. Takut, juga iya.

Almanak berganti, 18 Mei 2013, 11:55 WITA, tiba waktunya putri kami lahir. Jarum suntik, infus, bius, meja operasi menjadi jalan ia menghirup udara dunia. Tangisnya pecah, menjadi pertanda gelar baru telahi kami sandang. Adzan, iqamat dan dedoa mengalir dari mulut suami. Rupa-rupa perasaan baur. Harapan-harapan baru membenih. Semua tak mampu dijelaskan oleh KBBI 🙂

Selamat datang, Sayang. Selamat datang, Cinta. Penantian akan hadirmu telah mengajarkan kami banyak hal. Terima kasih telah menambah panggilan baru bagi kami; Ayah, Bunda. Terima kasih atas perasaan-perasaan yang tak terdefinisi ini. Kami sambut dirimu dengan penuh kasih. Selamat datang, Nak…

Dafinah, 2 hari

P.S : Mau berkenalan dengan putri kecil kami? Yuk salaman di sini

Advertisements

Posted on July 4, 2013, in Ayah, Bunda, Dafinah and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: