Sketsa Dafinah : Mengunjungi Kakek-Nenek, Be Calm My Princess…

Senin kemarin, tanpa terencana Dafinah mengunjungi kakek-nenek dari pihak ayah. Kenapa tanpa terencana? Kalau sesuai schedule dari ibu saya, kami (saya feat Dafinah) berangkatnya hari Sabtu (hari ini), namun tiba-tiba ayah saya mendapat telepon darurat kalau rumah di kampung (Sengkang, Kab. Wajo) kebanjiran sehingga harus segera ke sana . Berhubung daerah tempat tinggal mertua saya merupakan jalur ke kampungnya ayah saya, maka segala pernak-pernik Dafinah segera saya kemasi. Singkat kata, kami diantarkan ke rumah mertua terlebih dahulu, kemudian ayah-ibu saya melanjutkan perjalanan.

Berkunjung ke rumah mertua dengan membawa Dafinah membuat saya was-was (why??). Sebagai ibu baru, saya masih kerempongan dalam mengurusi Dafinah. Ibu saya lebih banyak turun tangan mengurus cucu pertamanya itu. Dafinah rewel sedikit, ibu pasti sudah nongol di depan pintu kamar siap menggendong cucunya. Dafinah menangis, diamnya cuma kalau ditimang ibu. Bahkan buat tidur pun Dafinah didampingi sang nenek. Sempurnalah ketergantungan saya dengan keberadaan ibu. Lalu, tiba-tiba harus mengurus Dafinah sendiri, di rumah mertua pula, alamak sanggupkah saya?  Apalagi sebelum berangkat, Dafinah menjadi sangat rewel; digendong nangis, disusuin ogah, ditidurkan malah merengek. Pusinglah saya sebagai new mom, gimana nanti..?? hiks…. 😦

Usai shalat Dhuhur, kami berangkat. Ini perjalanan jarak jauh pertama Dafinah, sempat khawatir kalau dia rewel atau mabuk perjalanan. Alhamdulillah, putri kecil kami baik-baik saja selama perjalanan hingga tiba di pelukan neneknya. Selama di perjalanan tak hentinya saya berdharap semoga Dafinah tidak rewel, bahkan saya ajak ngobrol dia sambil meminta agar bersikap manis nantinya. Dan hasilnya eng ing eng….

Tiba di rumah mertua, setelah memasukkan perlengkapan Dafinah ke kamar dan mengantar ayah-ibu untuk melanjutkan perjalanan, maka mulailah perjuangan menjadi ibu mandiri (hohoho). Dafinah sudah ngantuk berat saat kami tiba dan menunjukkan tanda-tanda kerewelannya (harus segera diantisipasi J ). Usai ganti baju dan minum susu, dia mulai menggeliat tidak tenang, merengek sesekali. Sementara ayunan buat tidurnya belum jadi maka meledaklah tangisnya, nyaring. Ayah segera membereskan ayunan, dan beberapa saat kemudian Dafinah sudah menghuni peraduannya. Lagu nina bobo dan shalawat segera diputar oleh pita suara saya untuk menenangkannya. Tak butuh waktu lama, sang putri pun tertidur lelap hingga sahur  tanpa begadang seperti biasanya (capek ya, Nak?).

Hari kedua di rumah mertua, sungguh di luar dugaan saya. Kebiasaan gadis kecil saya berubah drastis. Tak ada lagi rajukannya, malah dia jadi kalem. Biasanya menjelang tidur dia akan menangis sebagai permulaan, justru setiba kepalanya di ayunan dan didendangkan sedikit lelaplah ia. Kebiasaan bangun tengah malam buat begadangnya juga hilang. Walhasil, Dafinah jadi putri yang pintar nan baik hati serta tidak rewel. Mungkin dia menangkap gelombang kegelisahan ibunya, hingga dia pun bersikap baik. Bukankah perasaan bayi itu sensitif?

 Kebiasaan baik Dafinah berlanjut hingga tiba hari kami harus kembali lagi ke Makassar. Kesan yang timbul, Dafinah itu bayi yang kalem dan tidak terlalu rewel (hehehe…). Makasih sayang, sudah membantu bunda. Lain kali kalau dibawa kemana-mana bersikap baik lagi ya, my princess. Terima kasih telah menjadi My Calm Princess. Segenap cinta buatmu…

My Calm Princess

Dafinah siap menjenguk kakek-nenek

Advertisements

Posted on July 20, 2013, in Dafinah and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: