Selipat Surat Kecil

Kilk gambar

: Ayah

Bagaimana kabarmu di sana? Ketika tirai malam perlahan tersingkap-terganti oleh benang subuh yang memilin pelan. Masihkah rindu berdebar di dadamu?

Jarak telah membentang peluknya, merajut rentang yang harus kita lalui setiap pekan. Lelah telah tergurat pada tubuhmu, atau mungkin pula merayapi sarafmu. Namun rindu selalu menjadi debar penghapus letih, itu katamu.

Tataplah cermin di kamar kita. Bayang tubuhmu tak lagi tunggal. Ada aku dan dia di sisimu. Menggenggam jemarimu. Menggelayut manja di pundakmu. Menjalarkan rindu yang terus berdebar.

Subuh bertalu pada corong-corong masjid.  Helai usiamu bertambah. Mungkin melukis putih di ubunubun atau mencabuti sedikit kekuatan yang kau miliki. Namun aku yakin debar rindu di dadamu tak berkurang.

Subuh masih bertalu. Dedoa dirapalkan. Semoga rindu juga kasih terus menjadi denyut dalam keluarga kita. Menjadi nadiku, nadimu, juga nadi putri kecil kita.

Selamat mengulang hari lahir,  Ayah.

Advertisements

Posted on November 3, 2013, in Ayah, Puisi and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Dalam banget suratnya kak. Q aja sampai baca 3 kali + keringatan dan sedikit mengerti dengan indahnya realita sebuah keluarga yang terpisahkan oleh jarak, tutntutan pendidikan, dan masa depan.

    • Hehehe, Jus….baca sampai 3 kali..? artina ada yang susah dimengerti hihi…
      Saya rasa qt juga sudah mengalami keadaan demikian. Saat ini, kita sedang menjalaninya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: